Banyak dari kita sering terjebak dalam pertanyaan klasik: "Jika semua sudah ditakdirkan Tuhan, apakah manusia masih punya pilihan?" Diskusi mengenai Qada dan Qadar memang selalu menarik. Mari kita bedah esensi takdir dan bagaimana konsep ini sempat bergeser sepanjang sejarah Islam.
1. Fondasi Iman: Apa itu Qada dan Qadar?
Bagi setiap muslim—baik Syiah maupun Sunni—mengimani Qada dan Qadar adalah kewajiban mutlak. Secara sederhana, ini beda keduanya:
Qadar: Ukuran, cetak biru, atau potensi dasar yang Allah berikan pada setiap makhluk (seperti hukum alam dan batasan biologis).
Qada: Ketetapan atau hasil akhir yang terjadi atas izin Allah.
Al-Qur'an Surah Al-Tawbah 9:51, Surah Al-Imran 3:145, Surah Al-Qamar 54:49 dan Hadis menegaskan bahwa segala sesuatu berjalan dalam ukuran dan izin-Nya. Namun, iman kepada takdir bukan berarti kita menjadi robot tanpa kendali.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa iman seseorang tidak lengkap kecuali ia meyakini keesaan Allah, kerasulan beliau, kebangkitan setelah mati, dan ketetapan Ilahi.
2. Sisi Kelam Sejarah: Ketika Takdir Dijadikan "Kambing Hitam"
Paham bahwa manusia sama sekali tidak punya pilihan (fatalisme) sebenarnya bukan ajaran asli Islam, melainkan sebuah penyimpangan yang sengaja dipelihara demi kepentingan tertentu. Dalam sejarah, argumen "ini sudah takdir" sering disalahgunakan oleh:
Kaum Musyrik Mekkah: Mereka membela diri dengan berkata, "Kalau Allah tidak menghendaki, kami tidak akan menyembah berhala." Mereka menggunakan takdir untuk membenarkan dosa.
Penguasa Bani Umayyah: Secara politik, dinasti ini mempopulerkan paham predestinasi mutlak untuk membungkam kritik rakyat. Ketika Muawiyah menunjuk Yazid atau ketika Umar bin Sa'ad terlibat dalam tragedi pembunuhan Imam Husain, mereka berdalih bahwa semua kekejaman itu adalah "kehendak Allah" yang tidak bisa dilawan.
Tokoh Politik Masa Lalu: Beberapa figur seperti Aisyah juga tercatat menggunakan argumen ketetapan ilahi ketika merefleksikan keterlibatan mereka dalam konflik politik, seperti Perang Jamal.
3. Pengaruh Luar dan Teologi "Autopilot"
Selain karena kepentingan politik, paham salah kaprah ini juga dipengaruhi oleh interaksi dengan teologi di luar Islam pada masa itu. Salah satunya adalah pandangan sebagian Ahli Kitab (Yahudi kuno) yang menganggap Tuhan telah menentukan segalanya di awal penciptaan, lalu "beristirahat" dan membiarkan alam semesta berjalan sendiri secara autopilot tanpa campur tangan lagi.
4. Peringatan Tegas dari Rasulullah SAW
Rasulullah SAW sendiri sebenarnya sudah jauh-jauh hari memperingatkan umatnya. Beliau mengecam keras siapa saja yang melakukan kemaksiatan, korupsi, atau penindasan politik, lalu menyalahkan takdir sebagai pembelaan diri. Beliau menegaskan bahwa orang-orang yang memotong tanggung jawab moral manusia dengan dalih takdir adalah orang yang jauh dari ajaran beliau.
Kesimpulan
Iman kepada takdir adalah pilar akidah yang kokoh. Namun, menggunakannya untuk menghapus kehendak bebas dan tanggung jawab manusia adalah kekeliruan besar. Sederhananya: Tuhan memegang kendali penuh atas sistem semesta, namun di dalam sistem tersebut, Dia memberikan kita ruang dan kebebasan untuk memilih. Pilihan itulah yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban.
Komentar
Posting Komentar