Seperti biasa, di waktu senggang, aku menggulir beranda mediumku. Aku menemukan tulisan berjudul “Surat Terbuka Untuk Pak Miftah” oleh Kang Afrizal Naufal Ghani. Tentu saja tulisan ini memacuku untuk membukanya, karena topiknya masih terhubung dengan kegelisahan hatiku belakangan ini, soal sikap Pak Miftah terhadap pak Sun Haji, penjual es keliling asal Magelang, Jawa Tengah.
Teruntuk Kang Afrizal, izin untuk menanggapi ya. Kita sharing santai saja, sekedar ngobrol dan berbagi perspektif. Semoga berkenan.
Oke kita langsung saja ya. Dalam penggalan tulisannya, beliau menuliskan begini:
“Bahkan Nabi Muhammad pernah ditegur langsung oleh tuhan hanya karena dia tidak menggubris pertanyaan dari orang buta. Agama kita indah sekali, ya, Pak. Tuhan benar-benar adil.”
Pahami Konteks
Kalau boleh aku berpendapat, Al-Qur'an itu seperti sebuah antologi dialog antara Allah swt. dengan Nabi Muhammad saw. lah ya. Dalam dialog, percakapan yang terjadi adalah antara orang pertama dan orang kedua. Orang pertama dalam konteks ini adalah Allah, dan orang keduanya adalah Nabi.
Kita jelaskan dulu konteks kalimat yang ditulis Kang Afrizal ya. Konteks kalimat yang menyatakan Nabi Muhammad saw. ditegur oleh Allah karena mengabaikan orang buta — katanya — ada dalam surat ‘Abasa ayat 1–11.
Sependek pengetahuanku, banyak pakar hadis mengatakan bahwa asbabu al nuzul (sebab turunnya ayat) tersebut terjadi ketika Nabi sedang berkunjung ke rumah seorang kafir Quraisy yang kaya dan disegani oleh banyak orang. Beliau bernama Walid al Mughirah, selain memiliki privilege karena harta, beliau juga dianggap terpandang karena memiliki banyak anak.
Saat itu di rumah Walid ada beberapa orang kaya lainnya yang ikut berkumpul, yaitu Umayyah bin Khalaf, Abu Jahal, Abbas bin Abdul Muthalib, Utbah, dan Syaibah. Tujuan Nabi berkunjung adalah untuk menjelaskan ajaran Islam kepada orang-orang terpandang itu. Hingga pada beberapa saat, datanglah Abdullah bin Ummi Maktum, seorang muslim tunantetra yang miskin, meminta penjelasan Nabi tentang ajaran islam.
Nah, konon katanya, Nabi mengabaikan Abdullah bin Ummi Maktum di tengah orang-orang kaya ini.
Di ayat pertama, terjemahan Al-Qur'an Kemenag mengartikan “عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ” sebagai “dia (Nabi Muhammad) berwajah masam dan berpaling.”
Bagi yang mengetahui kaidah bahasa Arab, kata “عَبَسَ” merupakan kata kerja bersubjek orang ketiga laki-laki, sehingga arti kata “عَبَسَ” adalah “dia berwajah masam”. Tetapi, Kemenag menerjemahkan subjek yang dimaksud adalah Nabi Muhammad, orang kedua atau lawan bicara dari orang pertama.
Jika Allah mengatakan “dia (Nabi Muhammad) berwajah masam dan berpaling” kepada Nabi yang sedang diajak bicara, menurutku seperti kurang pas loh. Logikanya, kalau Allah mau mengatakan Nabi itu begini begitu, tinggal katakan saja ”kamu ini begini begitu”. Pakai kata ganti “kamu” daripada kata ganti “dia”, karena itu lebih pas untuk digunakan kepada orang kedua saat berdialog.
Kalau memang subjek yang dimaksud adalah Nabi, maka konsekuensinya kata “abasa wa tawallaa” dalam al-qur’an harus diganti dengan “ta’bisu wa tatawalla” atau “anta ‘aabisun wa mutawallun” yang berarti “kamu berwajah masam dan berpaling”, karena “abasa wa tawallaa” berarti “dia berwajah masam dan berpaling. Hanya kan permasalahannya, mana mungkin kita merubah Al-qur’an? Na’udzubillah.
Terus, siapa dong yang dimaksud “dia” dalam ayat itu? Berarti bukan Nabi Muhammad, Karena Allah lagi ngomongin orang ketiga dengan Nabi.
Itu yang pertama.
Bertentangan dengan ayat lain
Kedua, selain secara kaidah bahasa Arab tidak sesuai, ayat lain juga membantah ayat tersebut—jika ayat itu kita anggap benar bahwa Nabi berwajah masam dan berpaling—. Dalam surah Al-qalam ayat 4, Allah memuji Nabi dengan kalimat begini:
وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ yang artinya “sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Kata “اِنَّ” dan “لَعَلٰى” merupakan kata penegasan. Dalam ayat ini terdapat dua kata yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad itu berbudi pekerti yang agung (berakhlak baik).
Selain itu, dalam surah Al-ahzab ayat 21, Allah juga mengatakan begini:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
yang artinya “sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
Dua ayat ini menegaskan juga bahwa “dia yang bermuka masam dan berpaling” itu jelas bukan Nabi.
Cukup dua ayat ini saja yang aku cantumkan di sini ya. Aku hanya ingin mengingatkan, bahwa dalam Al-qur’an, antara ayat satu dengan ayat lainnya tidak saling bertentangan. Jika dua ayat di atas dirasa bertentangan dengan surah ‘Abasa ayat 1 yang aku bahas di atas, maka yang salah jelas bukan Allah, bukan ayatnya, tetapi penafsiran manusianya. Penafsiran pelaku/subjek yang bermuka masamnya yang salah.
Asbabu al nuzul atau peristiwa yang menjelaskan sebab diturunkannya sebuah ayat, dijelaskan dalam sebuah kitab hadis oleh para pakar hadis. Nah, kitab-kitab hadis tersebut biasa dijadikan sebagai sebuah rujukan oleh para pakar tafsir untuk menafsirkan ayat-ayat dalam Al-Qu'ran, salah satunya surah ‘Abasa ayat 1–11 itu.
Sepengetahuanku dalam Islam, kedudukan Al-Qu'ran itu lebih tinggi dari pada hadis. Maka, hadis yang menyatakan bahwa nabi Muhammad itu bermuka masam dan berpaling terhadap Abdullah bin Ummi Maktum, bisa kita tolak dengan tegas, karena bertentangan dengan konstitusi umat Islam, yaitu Al-Qu'ran yang merupakan sumber primer dan utama.
Kalau hadis saja bisa kita tolak karena bertentangan dengan ayat— yang secara logika lebih masuk akal mengatakan Nabi itu teladan baik— , maka terjemahan Kemenag pun bisa kita tolak, karena dalam terjemahan khususnya dalam kurung adalah sebuah tafsiran.
Jadi, menurutku, sebagai seorang muslim dan muslimah yang mencintai Nabinya, kita harus mempunyai mindset yang benar tentang Nabinya. Kalau mindset kita menganggap Nabi itu ada potensi salahnya, maka konsekuensinya, kita memiliki Nabi yang tidak sempurna sebagai seorang teladan.
Kalau aku secara pribadi sih mempunyai mindset bahwa Nabi Muhammad itu adalah manusia paling sempurna (insan kamil) dan tidak pernah melakukan kesalahan (ma'sum).
Kalau Allah mengutus seorang Nabi yang berpotensi melakukan kesalahan, maka ajaran yang kita terima dari Nabi itu ya ada potensi salah juga, bahkan berpotensi menyesatkan manusia. Masa, Allah membiarkan manusia dibimbing oleh Nabi yang begitu? Bukankah Allah ingin umat manusia ini berada di jalan yang lurus?
Akhir kata, terima kasih kepada Kang Afrizal yang sudah memantik pikiranku hingga menuangkannya dalam sebuah tulisan. Terima kasih teman-teman yang sudah mau meluangkan waktu untuk membaca. Semoga berkenan menerima perspektif yang berbeda ya. Tabik!

Komentar
Posting Komentar