Langsung ke konten utama

Postingan

Antara Takdir dan Pilihan: Memahami Qada dan Qadar

Banyak dari kita sering bingung membedakan antara nasib yang sudah "tertulis" dan kebebasan kita dalam memilih. Apakah kita hanya sekadar menjalankan skenario yang sudah ada, atau kita punya kendali? Berdasarkan penjelasan dalam sumber, mari kita bedah konsep Qada dan Qadar dengan cara yang lebih segar. 1. Qadr vs Qada: Cetak Biru dan Hasil Akhir Sering kali kita menganggap keduanya sama, padahal ada urutan yang jelas: Qadr datang sebelum Qada . Qadr (Spesifikasi): Bayangkan ini sebagai desain atau hukum dasar. Allah memberikan dimensi, karakteristik, dan batasan pada setiap makhluk-Nya. Contohnya adalah hukum fisika, kimia, atau kapasitas biologis manusia. Seperti sebuah pesawat; desain sayap, kekuatan mesin, dan kapasitas bahan bakar yang dibutuhkan untuk terbang dari satu kota ke kota lain adalah Qadr -nya. Qada (Hasil): Ini adalah hasil akhir setelah semua faktor bergabung. Jika pesawat tadi diisi bahan bakar yang cukup dan terbang dengan benar, maka keberhasilann...

Meluruskan Mitos Takdir: Antara Ketetapan Tuhan dan Kebebasan Manusia

Banyak dari kita sering terjebak dalam pertanyaan klasik: "Jika semua sudah ditakdirkan Tuhan, apakah manusia masih punya pilihan?" Diskusi mengenai Qada dan Qadar memang selalu menarik. Mari kita bedah esensi takdir dan bagaimana konsep ini sempat bergeser sepanjang sejarah Islam. 1. Fondasi Iman: Apa itu Qada dan Qadar? Bagi setiap muslim—baik Syiah maupun Sunni—mengimani Qada dan Qadar adalah kewajiban mutlak. Secara sederhana, ini beda keduanya: Qadar: Ukuran, cetak biru, atau potensi dasar yang Allah berikan pada setiap makhluk (seperti hukum alam dan batasan biologis). Qada: Ketetapan atau hasil akhir yang terjadi atas izin Allah. Al-Qur'an    Surah Al-Tawbah 9:51, Surah Al-Imran 3:145, Surah Al-Qamar 54:49 dan Hadis menegaskan bahwa segala sesuatu berjalan dalam ukuran dan izin-Nya. Namun, iman kepada takdir bukan berarti kita menjadi robot tanpa kendali. Rasulullah SAW menegaskan bahwa iman seseorang tidak lengkap kecuali ia meyakini keesaan Allah, kerasulan b...

Nilai di Balik Nilai

Baca kisahnya di sini: NILAI DI BALIK NILAI

Novel: Ternyata Tuhan Merestui

  SINOPSIS Adalah Rara, sosok wanita yang hidup dalam kesenangan tanpa makna. Hatinya yang tak tenang membuat hari-harinya menjadi mengherankan. Ia bertemu dengan sosok pria yang perawakannya ideal, selalu berpenampilan rapih, dan memiliki karakter unik yang disukai banyak perempuan. Hidungnya yang mancung, wajahnya yang ketimurtengahan menunjukkan bahwa ia bukan asli Indonesian . Pak Baghir yang merupakan orang Iran itu menikah dengan Bu Haura yang merupakan orang Bandung, Indonesia, hingga menghasilkan pria berkarisma seperti Zein ini. Dikisahkan akhir-akhir ini Indonesia mengalami krisis toleransi. Banyak isu-isu luar yang dilemparkan ke Indonesia. Hak-hak dalam beragama yang terkoyakkan menjadi salah satu kasus yang tak jarang ditemukan. Terkhusus di Jawa Barat, kota yang sekarang Zein tempati. Tak jarang sesuatu yang dianggap minoritas dijadikan ajang untuk memberikan interpretasi pribadi, di kampus terutama. Zein yang bermazhab Ja’fari (Syi’ah Imamiyah) ...

Membaca Pluralitas Indonesia: Dari Ancaman Intoleransi menuju Moderasi Beragama

Pendahuluan      Kasus-kasus intoleransi dan radikalisme semakin hari semakin menunjukkan eksistensinya di Indonesia. Survei yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta terkait Sikap Keberagamaan Siswa dan Mahasiswa Muslim di Indonesia tahun 2017 menunjukkan adanya penguatan paham intoleransi dan radikalisme di kalangan siswa dan mahasiswa.      Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar mereka memiliki opini yang termasuk dalam kategori intoleran/sangat intoleran dan radikal/sangat radikal. Namun jika dilihat dari sisi aksi/tindakan, mereka sebagian besar memiliki kecenderungan toleran dan moderat (gambar 1).      Walaupun secara tindakan mereka cenderung moderat dan toleran (gambar 2), tapi kecenderungan sikap mereka yang sebagian besar intoleran dan radikal sangat mengkhawatirkan, karena sikap yang demikian berpotensi menjadi tindakan radikal.           Dari analisis d...

Dari Plato hingga Al-Qur’an: Menelusuri Ulang Kedudukan Perempuan

Sepanjang sejarah umat manusia, perempuan pada tataran teoretis dan praktis seringkali ditempatkan pada posisi yang tidak terhormat. Plato (427–347 SM) misalnya menganggap perempuan sebagai makhluk yang tercipta karena degenerasi manusia. Plato menganggap hanya laki-laki saja yang diciptakan langsung oleh Tuhan dan diberi jiwa oleh Tuhan. Mereka yang hidup lurus akan kembali kepada bintang-bintang, sedangkan mereka yang hidup menyimpang dengan suatu alasan, diasumsikan sebagai makhluk yang telah berubah menjadi perempuan pada generasi kedua. Perempuan juga digambarkan sebagai makhluk yang tidak produktif oleh Aristoteles (384–322 SM). Perempuan tidak lain merupakan makhluk lemah dan tidak sempurna seperti halnya laki-laki. Ia menyebutkan perempuan hanyalah makhluk pasif yang hanya berfungsi sebagai “wadah” bagi tumbuhnya embrio dalam janin karena tidak bisa “memasak” cairan menstruasinya menjadi benih. Sementara laki-laki dianggap sebagai makhluk yang superior dibandingkan ...

Dari ‘Tugas Istri’ Menjadi ‘Tugas Bersama’: Pekerjaan Rumah dalam Pandangan Islam

https://pin.it/23Gw9xLRG Siapa di sini yang sudah menikah? Jika kamu adalah perempuan, aku ingin bertanya padamu; bagaimana peran suamimu dalam pekerjaan rumahmu? Dan jika kamu adalah laki-laki, aku ingin bertanya padamu; apakah kamu merasa peran istrimu dalam melakukan pekerjaan rumah lebih dominan atau sudah seimbang denganmu? Teruntuk kamu yang belum menikah dan masih tinggal bersama orang tua, seberapa sering kamu melihat ibumu merasa kelelahan akibat pekerjaan rumah yang menumpuk dan harus ia selesaikan seorang diri? Jika jawaban kalian adalah “tugas rumah lebih banyak didominasi oleh perempuan atau istri” itu adalah gambaran nyata dari budaya patriarki yang masih terjadi di bumi ini. Dalam Islam, tugas rumah tangga tidak dibebankan kepada istri saja, tetapi menjadi tanggung jawab bersama. Pandangan yang beranggapan bahwa tugas rumah tangga adalah tugas seorang istri, telah diyakini oleh para laki-laki, bahkan oleh perempuan itu sendiri. Akibatnya, perempuan yang kewalahan menguru...