Langsung ke konten utama

Novel: Ternyata Tuhan Merestui

 



SINOPSIS


Adalah Rara, sosok wanita yang hidup dalam kesenangan tanpa makna. Hatinya yang tak tenang membuat hari-harinya menjadi mengherankan. Ia bertemu dengan sosok pria yang perawakannya ideal, selalu berpenampilan rapih, dan memiliki karakter unik yang disukai banyak perempuan. Hidungnya yang mancung, wajahnya yang ketimurtengahan menunjukkan bahwa ia bukan asli Indonesian. Pak Baghir yang merupakan orang Iran itu menikah dengan Bu Haura yang merupakan orang Bandung, Indonesia, hingga menghasilkan pria berkarisma seperti Zein ini.

Dikisahkan akhir-akhir ini Indonesia mengalami krisis toleransi. Banyak isu-isu luar yang dilemparkan ke Indonesia. Hak-hak dalam beragama yang terkoyakkan menjadi salah satu kasus yang tak jarang ditemukan. Terkhusus di Jawa Barat, kota yang sekarang Zein tempati. Tak jarang sesuatu yang dianggap minoritas dijadikan ajang untuk memberikan interpretasi pribadi, di kampus terutama.

Zein yang bermazhab Ja’fari (Syi’ah Imamiyah) menjadi objek perhatian anak-anak di kelas, karena ia mengemukakan pendapatnya berkenaan dengan keyakinannya yang tidak sesuai dengan apa yang disampaikan kebanyakan orang.

Rara yang merupakan wanita acuh dalam masalah agama, kini tertarik untuk mendalaminya setelah bertemu dengan Zein. Ada sesuatu yang membuat Rara ingin lebih baik lagi setelah Rara bertemu dengan Zein. Rara yang mencintainya sejak awal bertemu, merasakan sedih karena pria yang dicintainya dibenci banyak orang. Meskipun Rara bermazhab Syafi’i (Sunni), tapi ia tidak mempermasalahkan perbedaan keyakinan dengan sosok yang dicintainya itu, yaa meski sahabatnya Tia kini lebih memilih meninggalkannya.

Hadi yang merupakan sahabat setia Zein membawa kabar gembira pada Rara selepas bertahun-tahun Rara kehilangan kabar dari Zein. Ia berkata bahwa suatu saat nanti Zein akan memberi kejutan indah pada Rara. Hingga tibalah saat itu. Selepas wisuda, Zein menemui Rara. Ia melamar Rara pada hari dimana Rafi (sahabat Rara) juga melamarnya. Rara lebih ingin bersama Zein. Selepas lamarannya itu, Rara merasakan dilema karena ia takut kedua orangtuanya tidak menerima orang yang berbeda mazhab dengannya. Tapi pada akhirnya, Zein berhasil meyakinkan kedua orangtua Rara. Kini Zein yang merupakan orang Syi’i menikah dengan Rara yang merupakan orang Sunni. Rara dan Zein berhasil membuktikan pada dunia bahwa antara Sunni dan Syi’ah benar-benar bisa bersatu.


Baca kisah lengkapnya di sini:
                     Novel Ternyata Tuhan Merestui



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Pluralitas Indonesia: Dari Ancaman Intoleransi menuju Moderasi Beragama

Pendahuluan      Kasus-kasus intoleransi dan radikalisme semakin hari semakin menunjukkan eksistensinya di Indonesia. Survei yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta terkait Sikap Keberagamaan Siswa dan Mahasiswa Muslim di Indonesia tahun 2017 menunjukkan adanya penguatan paham intoleransi dan radikalisme di kalangan siswa dan mahasiswa.      Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar mereka memiliki opini yang termasuk dalam kategori intoleran/sangat intoleran dan radikal/sangat radikal. Namun jika dilihat dari sisi aksi/tindakan, mereka sebagian besar memiliki kecenderungan toleran dan moderat (gambar 1).      Walaupun secara tindakan mereka cenderung moderat dan toleran (gambar 2), tapi kecenderungan sikap mereka yang sebagian besar intoleran dan radikal sangat mengkhawatirkan, karena sikap yang demikian berpotensi menjadi tindakan radikal.           Dari analisis d...

Saat Tafsir Menyudutkan Nabi: Refleksi atas Surah ‘Abasa

Seperti biasa, di waktu senggang, aku menggulir beranda mediumku. Aku menemukan tulisan berjudul “Surat Terbuka Untuk Pak Miftah” oleh Kang  Afrizal Naufal Ghani . Tentu saja tulisan ini memacuku untuk membukanya, karena topiknya masih terhubung dengan kegelisahan hatiku belakangan ini, soal sikap Pak Miftah terhadap pak Sun Haji, penjual es keliling asal Magelang, Jawa Tengah. Dalam tulisan itu, secara garis besar, pandangan Mas Afrizal terhadap sikap Pak Miftah itu sama denganku. Tetapi di kalimat tertentu, ada kalimat yang sedikit menggelitik, dan akhirnya aku termotivasi untuk meresponnya dalam sebuah tulisan.  Teruntuk Kang Afrizal, izin untuk menanggapi ya. Kita  sharing  santai saja ,  sekedar  ngobrol  dan berbagi perspektif. Semoga berkenan. Oke kita langsung saja ya. Dalam penggalan tulisannya, beliau menuliskan begini: “Bahkan Nabi Muhammad pernah ditegur langsung oleh tuhan hanya karena dia tidak menggubris pertanyaan dari orang buta. Agama...

Perempuan Bukan Objek: Dari Stereotipe Menuju Kesadaran Diri

Epistemologi Perempuan Perempuan secara epistemologi, berasal dari kata dasar “empu” yang ditambahkan prefiks “per” dan sufiks “an”. Dalam KBBI, “empu” berarti seseorang yang ahli atau mampu. Maka boleh saja perempuan dalam aksiologinya diartikan sebagai sekumpulan orang yang ahli atau mampu layaknya laki-laki. Perempuan sebagai manusia seperti halnya laki-laki, memiliki fitrah  yang membuatnya ingin selalu menuju kebenaran  (hanif) . Dalam diri  manusia terdapat nurani  (dhamir)  yang selalu mengarahkan manusia  kepada kesucian, kebaikan, dan kebenaran. Fitrah inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, karena   dengan fitrah, manusia akan terus menerus berjalan menuju kebenaran mutlak dan terakhir yakni Allah swt. Tuhan  Yang Maha Esa, sehingga manusia yang memaksimalkan potensi fitrahnya, layak menyandang gelar manusia sejati atau manusia sempurna (insan kamil). Dalam perbincangan feminisme, dalam konteks sosial, perempuan memil...