Langsung ke konten utama

Perempuan Bukan Objek: Dari Stereotipe Menuju Kesadaran Diri



Epistemologi Perempuan

Perempuan secara epistemologi, berasal dari kata dasar “empu” yang ditambahkan prefiks “per” dan sufiks “an”. Dalam KBBI, “empu” berarti seseorang yang ahli atau mampu. Maka boleh saja perempuan dalam aksiologinya diartikan sebagai sekumpulan orang yang ahli atau mampu layaknya laki-laki.

Perempuan sebagai manusia seperti halnya laki-laki, memiliki fitrah yang membuatnya ingin selalu menuju kebenaran (hanif). Dalam diri manusia terdapat nurani (dhamir) yang selalu mengarahkan manusia kepada kesucian, kebaikan, dan kebenaran.

Fitrah inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, karena  dengan fitrah, manusia akan terus menerus berjalan menuju kebenaran mutlak dan terakhir yakni Allah swt. Tuhan Yang Maha Esa, sehingga manusia yang memaksimalkan potensi fitrahnya, layak menyandang gelar manusia sejati atau manusia sempurna (insan kamil).

Dalam perbincangan feminisme, dalam konteks sosial, perempuan memiliki relasi setara dengan manusia berjenis kelamin laki-laki. Islam pun meng-amini. Dalam firman-Nya dikatakan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kedudukan setara, yang membedakan mereka hanyalah kepatuhannya kepada Tuhan (QS. Al-Hujurat:13).

Perempuan yang sadar akan fungsi dan peranannya sebagai ‘abd (hamba) dan khalifah (wakil Tuhan di muka bumi) akan selalu memaksimalkan potensi fitrah yang diberikan Tuhan kepadanya. Perempuan yang sadar, tidak akan mau menjadikan “tuhan-tuhan kecil” sebagai thoghut yang membelenggunya. Perempuan yang sadar, hanya akan menjadikan Tuhannya sebagai fokus utama dari setiap hal yang ia kerjakan di dunia.


Stereotipe Negatif

Berbagai stereotipe negatif seringkali diarahkan kepada perempuan adalah bahwa perempuan itu makhluk lemah, makhluk yang mengutamakan perasaan, tidak mampu melakukan perubahan- perubahan seperti yang bisa dilakukan para lelaki, dan masih banyak lagi. Hal itu menjadi sebuah konstruk gender yang berhasil disosialisasikan dari masa ke masa dan dari tempat ke tempat.

Sejak kecil, seorang ibu yang melahirkan bayi perempuan, selalu dibelikan baju berwarna merah muda, sedangkan bayi laki-laki dibelikan baju berwarna biru. Anak laki-laki dikenal dengan kejantanan dan kekuatannya, sehingga dibelikan mainan seperti pistol-pistolan, robot-robotan, dan lain-lain. Sedangkan anak perempuan, karena dikenal dengan kelemah lembutannya, ia selalu dibelikan mainan feminin seperti berbie atau pun boneka.

Orang tua kita selalu marah ketika misalkan anak laki-lakinya menangis. Seakan menangis itu menjadi sebuah aib jika dilakukan manusia berjenis kelamin laki-laki. Katanya, laki-laki itu tidak boleh cengeng, harus kuat, tegar, dan tidak boleh lembek. Sementara ketika anak perempuan berpenampilan dan bersikap sedikit maskulin seperti menggunakan celana, berambut pendek, dan tidak boleh terbahak-bahak ketika tertawa, menjadi hal tabu juga jika dilakukan.

Penempatan perempuan di ranah domestik dan laki-laki di ranah publik, seakan menjadi sebuah kodrat yang tidak bisa diubah. Padahal semua itu adalah gender, yang sifatnya bukan given dan bisa dipertukarkan.


Perempuan Harus Bangkit

Press enter or click to view image in full size

Perempuan yang masih mau terjajah oleh konstruk gender semacam itu tidak akan merdeka. Perempuan tidak boleh membiarkan dirinya dibelenggu oleh aturan-aturan yang merugikan dan tidak membuatnya produktif. Perempuan sudah saatnya harus bangkit dari kegelapan dan keterpurukan. Ia harus menyadari bahwa ia mempunyai satu Raja yang membuat dirinya berada di posisi merdeka dan mampu menyumbangkan gagasan-gagasan indahnya. Siapa lagi jika bukan Tuhannya Yang Maha Esa dan Maha Segala?

Perempuan harus mampu menggali potensinya dan memaksimalkannya, sehingga efek positifnya bisa dirasakan oleh semua orang di sekitarnya. Dengan jalan apapun perempuan memiliki kesempatan besar untuk berperan.

Dunia sekarang, misalnya sudah menggiring opini bahwa manusia menjadi pusat wacana (antroposentris). Manusia diposisikan menjadi makhluk Tuhan yang paling tinggi diantara semua makhluk Tuhan lainnya. Memang, pernyataan itu adalah hal yang benar. Karena manusia pada dasarnya merupakan al-hayawanu naatiq (hewan yang berakal). Manusia menjadi mulia karena anugerah akal yang diberikan Tuhan kepadanya.
Tetapi permasalahannya, mengapa sekarang makhluk paling mulia tersebut seringkali menjadi perusak di muka bumi dan menumpahkan darah satu sama lain?


Gagasan Vandana Shiva

Menarik untuk dicermati gagasan yang dibawa oleh Vandana Shiva dalam karyanya Staying Alive, Woman, Ecology, and Survival in India yang menyinggung soal kedudukan perempuan yang ditempatkan begitu rendah karena kepentingan kapitalisme.

Kemajuan industri kapitalisme menurutnya, tidak lain merupakan pembudayaan produk-produk patriarki. Peradaban yang dipengaruhi sistem kapitalisme memandang perempuan dan alam sebagai objek sumber daya yang harus dikuasai. Barangkali ini bisa menjadi jawaban dari pertanyaan di atas.  Lalu, mengapa manusia yang dianugerahi akal malah menjadi perusak di muka bumi? Ternyata jawabannya ada pada cara berpikir yang salah pada manusia itu sendiri.

Cara berpikir yang menempatkan entitas tertentu berada di bawah entitas yang lain, tidak bisa dibenarkan. Hal itu umpamanya bisa dilihat dari sifat kebudayaan kapitalisme yang cenderung patriarki dan menomorduakan
perempuan maupun alam. Padahal menurut Vandana Shiva, kita tidak bisa melupakan perempuan dan alam sebagai relasi setara kita. Kita tidak boleh buta, hanya karena dalih peningkatan kualitas ekonomi, kita korbankan perempuan dan alam sebagai objek yang bebas dieksploitasi.

Eksploitasi Perempuan

Pernyataan itu tidak berlebihan menurutku. Karena memang pada kenyataannya kita bisa saksikan sendiri. Di era modern ini, perempuan itu dengan mudahnya dijadikan objek penghasil uang. Mengiklankan produk-produk kecantikan menggunakan keindahan tubuh perempuan menjadi hal biasa yang sering kita lihat.

Media menggiring opini bahwa perempuan cantik itu harus berkulit putih, berambut panjang, tinggi, bertubuh semampai, dan lain sebagainya. Efeknya pun tidak bisa dihindari. Sekarang perempuan banyak yang menjadi korban patriarki beruntun karena melihat iklan tersebut. Sudah dieksploitasi, dibodohi pula.


Press enter or click to view image in full size

Eksploitasi Alam

Kita lihat juga perlakuan sewenang-wenang peradaban kapitalisme terhadap alam. Dengan dalih pembangunan ekonomi, alam bahkan diperkosa dan diperjualbelikan seenaknya. Hutan dibakar dan digunduli, gunung dijual, cagar alam dialih fungsikan menjadi kawasan wisata, dan masih banyak lagi.

Ekofeminisme menjadi sebuah kesadaran bahwa tidak ada dualisme dalam relasi antara manusia (laki-laki dan perempuan) dengan alam. Menganggap alam sebagai makhluk tak memiliki jiwa menurut Vandana Shiva merupakan kecelakaan berpikir.

Sebuah kesadaran baru yang berusaha menjelaskan bahwa setiap entitas saling berhubungan dan bergantung satu sama lain. Dalam bahasa Vandana Shiva, terdapat interconnection yang merupakan bentuk relasi seluruh entitas makhluk hidup secara setara dan tidak memiliki superioritas antara satu dengan yang lain.

Berdiam diri melihat ketimpangan yang terjadi yang dilakukan manusia berpaham patriarki pada entitas lain seperti perempuan dan alam, bukanlah hal yang tepat. Sudah saatnya, perempuan mulai berperan. Mencontoh para perempuan teladan terdahulu yang mau mendobrak ketidakseimbangan berwujud ketidakadilan.

Marilah menjadi perempuan pencerah! Menjadi perempuan pembawa pengaruh baik yang membawa perbaikan, untuk kemudian kita persembahkan pada Asal Mula dan Tujuan Hidup kita, Tuhan Yang Maha Esa.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Pluralitas Indonesia: Dari Ancaman Intoleransi menuju Moderasi Beragama

Pendahuluan      Kasus-kasus intoleransi dan radikalisme semakin hari semakin menunjukkan eksistensinya di Indonesia. Survei yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta terkait Sikap Keberagamaan Siswa dan Mahasiswa Muslim di Indonesia tahun 2017 menunjukkan adanya penguatan paham intoleransi dan radikalisme di kalangan siswa dan mahasiswa.      Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar mereka memiliki opini yang termasuk dalam kategori intoleran/sangat intoleran dan radikal/sangat radikal. Namun jika dilihat dari sisi aksi/tindakan, mereka sebagian besar memiliki kecenderungan toleran dan moderat (gambar 1).      Walaupun secara tindakan mereka cenderung moderat dan toleran (gambar 2), tapi kecenderungan sikap mereka yang sebagian besar intoleran dan radikal sangat mengkhawatirkan, karena sikap yang demikian berpotensi menjadi tindakan radikal.           Dari analisis d...

Saat Tafsir Menyudutkan Nabi: Refleksi atas Surah ‘Abasa

Seperti biasa, di waktu senggang, aku menggulir beranda mediumku. Aku menemukan tulisan berjudul “Surat Terbuka Untuk Pak Miftah” oleh Kang  Afrizal Naufal Ghani . Tentu saja tulisan ini memacuku untuk membukanya, karena topiknya masih terhubung dengan kegelisahan hatiku belakangan ini, soal sikap Pak Miftah terhadap pak Sun Haji, penjual es keliling asal Magelang, Jawa Tengah. Dalam tulisan itu, secara garis besar, pandangan Mas Afrizal terhadap sikap Pak Miftah itu sama denganku. Tetapi di kalimat tertentu, ada kalimat yang sedikit menggelitik, dan akhirnya aku termotivasi untuk meresponnya dalam sebuah tulisan.  Teruntuk Kang Afrizal, izin untuk menanggapi ya. Kita  sharing  santai saja ,  sekedar  ngobrol  dan berbagi perspektif. Semoga berkenan. Oke kita langsung saja ya. Dalam penggalan tulisannya, beliau menuliskan begini: “Bahkan Nabi Muhammad pernah ditegur langsung oleh tuhan hanya karena dia tidak menggubris pertanyaan dari orang buta. Agama...