Langsung ke konten utama

Dari ‘Tugas Istri’ Menjadi ‘Tugas Bersama’: Pekerjaan Rumah dalam Pandangan Islam

https://pin.it/23Gw9xLRG


Siapa di sini yang sudah menikah?

Jika kamu adalah perempuan, aku ingin bertanya padamu; bagaimana peran suamimu dalam pekerjaan rumahmu?

Dan jika kamu adalah laki-laki, aku ingin bertanya padamu; apakah kamu merasa peran istrimu dalam melakukan pekerjaan rumah lebih dominan atau sudah seimbang denganmu?

Teruntuk kamu yang belum menikah dan masih tinggal bersama orang tua, seberapa sering kamu melihat ibumu merasa kelelahan akibat pekerjaan rumah yang menumpuk dan harus ia selesaikan seorang diri?

Jika jawaban kalian adalah “tugas rumah lebih banyak didominasi oleh perempuan atau istri” itu adalah gambaran nyata dari budaya patriarki yang masih terjadi di bumi ini.

Dalam Islam, tugas rumah tangga tidak dibebankan kepada istri saja, tetapi menjadi tanggung jawab bersama. Pandangan yang beranggapan bahwa tugas rumah tangga adalah tugas seorang istri, telah diyakini oleh para laki-laki, bahkan oleh perempuan itu sendiri.

Akibatnya, perempuan yang kewalahan mengurus semua pekerjaan rumah yang menumpuk. Inilah yang menjadi akar masalah dari semua kenyataan pahit yang harus dialami para perempuan di seluruh dunia.

Lihat saja kehidupan sehari-hari di sekitar kita. Di pagi hari, perempuan bangun lebih pagi, membersihkan rumah, menyapu, mengepel, mencuci, menyiapkan makanan untuk keluarga, menyiapkan baju suami untuk berangkat kerja, mengurus anak berangkat sekolah, masih banyak lagi.

Apa yang dilakukan suami? meminta disiapkan teh atau kopi, sambil membaca koran atau mengecek gawai. Kesibukan versus kesantaian yang hakiki.

Eits, ini kebanyakan suami ya, tidak semuanya. Ada juga kok suami yang ngerti.

Loh, bukannya suami itu imam bagi keluarganya? Dalam surah annisa ayat 34 kan dikatakan ar-rijālu qawwāmụna ‘alan-nisā (laki-laki itu pemimpin bagi perempuan)?

Ya! itu benar. Tetapi lihat sambungan ayatnya:

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ

“Laki-laki (suami) adalah pemimpin atas para perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari hartanya.”

Ayat ini secara tegas menyatakan laki-laki adalah pemimpin perempuan hanya dalam relasi keluarga atau pernikahan. Allah memuliakan seorang laki-laki karena tanggung jawabnya yang berat dalam mencari nafkah. Laki-laki menjadi tulang punggung keluarga, ia yang bertanggung jawab, melindungi, dan mencukupi kebutuhan keluarga.

Adapun dalam relasi sosial, laki-laki dan perempuan dalam surat al hujurat ayat 13 memiliki kedudukan yang sama, yang membedakan kemuliaan mereka adalah tingkat ketakwaannya pada Allah SWT. Jadi, jangan lagi kita menganggap perempuan itu tugasnya di rumah, atau perempuan tidak boleh bekerja di luar rumah. Perempuan berhak mengembangkan potensi dan minat yang dimilikinya, sama seperti laki-laki.

Lalu apa masalahnya?

Masalahnya, menjadi seorang imam atau pemimpin keluarga itu tidak boleh bersikap otoriter atau seenaknya memperlakukan keluarga, apalagi seorang istri. Bukankah Rasulullah saw. dalam sebuah hadis pernah mengatakan begini?

“Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. At-Tirmidzi)

Tentunya semua sepakat dong bahwa melihat istri kecapaian— bahkan sampai stres— karena mengerjakan semua tugas rumah sendirian, sehingga membuat mental dan fisiknya seringkali lelah, itu tidak baik?

Bagi seorang istri yang belum mempunyai anak dan tidak bekerja mungkin “tugas negara” itu belum terlalu begitu melelahkan. Tetapi bagaimana dengan seorang istri yang sudah punya anak dan bekerja pula?

Orang-orang sering menyebutnya double burden (beban ganda); mengurus rumah iya, mengurus pekerjaan iya. Capainya dua kali lipat, atau bahkan berlipat-lipat. Makanya aku banyak melihat perempuan merasa stres dengan kondisi yang dialaminya itu. 

Pernah mendengar baby blues kan? ya, aku rasa itu femonena di mana istri merasa mengurus bayi sekaligus pekerjaan rumahnya sendiri, tidak diapresiasi, dan tidak dibantu oleh suami.

Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Kita bisa memulainya dari mengubah keyakinan atau mindset, bahwa tugas rumah itu bukan hanya tugas istri, melainkan tugas bersama, tugas suami, dan anak-anak juga. Ini sangat penting! karena mindset itu adalah landasan manusia bertindak.

Bagi kalian yang berencana untuk menikah, pastikan calon pasangan kalian memahami konsep ini dan membicarakannya sebelum melaksanakan ijab wal qobul, ya. Penting sekali loh, memiliki pasangan yang paham relasi kesalingan dalam sebuah rumah tangga.

Nah, bagi kalian yang sudah menikah dan belum mempunyai anak, dan terlanjur memiliki suami yang berpandangan salah—patriarki— , penting sekali untuk kalian diskusikan dan mencari kesepahaman, sehingga sebagai seorang istri kalian akan sangat terbantu dalam kehidupan sehari-hari. Mental kalian juga penting! kalian berhak bahagia!

Bagi yang sudah mempunyai anak, mari ajarkan anak kita untuk memahami konsep ini. Ajarkan anak perempuan dan anak laki-laki kita untuk menyapu lantai, mengepel, mencuci piring, melipat atau menyetrika pakaian, memasak, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan pekerjaan rumah. 

Percaya deh, jika anak laki-laki kita diajarkan pekerjaan rumah sejak dini, maka secara tidak sadar, kita telah mempersiapkan suami yang baik dan layak bagi calon menantu kita. Kita juga telah menyumbangkan seorang muslim yang dicintai oleh Allah karena akhlaknya yang baik terhadap perempuan, khusunya calon istrinya kelak.

Teman-teman, itulah beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menciptakan kondisi yang lebih sehat, nyaman, dan baik bagi para perempuan. Sudah saatnya kita sadari bersama, bahwa perempuan juga layak bahagia, dan tentunya hal ini perlu dukungan dari kaum laki-laki. Siap mendukung kan kaum adam?

Untuk para kaum adam, yuk mulai sekarang sayangi istrimu dengan membantu meringankan pekerjaan rumah sebisamu. Tanamkan ajaran yang baik kepada anak laki-lakimu bahwa laki-laki juga perlu loh skill untuk melakukan pekerjaan rumah, sehingga ketika menikah, mereka tidak membebani istri dan anak-anak perempuannya.

Bukankah kehidupan rumah tangga akan indah jika kita saling bekerja sama dengan penuh ketulusan? Betapa indahnya jika dunia ini dipenuhi pemandangan indah berupa keluarga yang saling menyayangi dan saling mengabdi dengan ikhlas kepada pasangan dan anak-anaknya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Pluralitas Indonesia: Dari Ancaman Intoleransi menuju Moderasi Beragama

Pendahuluan      Kasus-kasus intoleransi dan radikalisme semakin hari semakin menunjukkan eksistensinya di Indonesia. Survei yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta terkait Sikap Keberagamaan Siswa dan Mahasiswa Muslim di Indonesia tahun 2017 menunjukkan adanya penguatan paham intoleransi dan radikalisme di kalangan siswa dan mahasiswa.      Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar mereka memiliki opini yang termasuk dalam kategori intoleran/sangat intoleran dan radikal/sangat radikal. Namun jika dilihat dari sisi aksi/tindakan, mereka sebagian besar memiliki kecenderungan toleran dan moderat (gambar 1).      Walaupun secara tindakan mereka cenderung moderat dan toleran (gambar 2), tapi kecenderungan sikap mereka yang sebagian besar intoleran dan radikal sangat mengkhawatirkan, karena sikap yang demikian berpotensi menjadi tindakan radikal.           Dari analisis d...

Saat Tafsir Menyudutkan Nabi: Refleksi atas Surah ‘Abasa

Seperti biasa, di waktu senggang, aku menggulir beranda mediumku. Aku menemukan tulisan berjudul “Surat Terbuka Untuk Pak Miftah” oleh Kang  Afrizal Naufal Ghani . Tentu saja tulisan ini memacuku untuk membukanya, karena topiknya masih terhubung dengan kegelisahan hatiku belakangan ini, soal sikap Pak Miftah terhadap pak Sun Haji, penjual es keliling asal Magelang, Jawa Tengah. Dalam tulisan itu, secara garis besar, pandangan Mas Afrizal terhadap sikap Pak Miftah itu sama denganku. Tetapi di kalimat tertentu, ada kalimat yang sedikit menggelitik, dan akhirnya aku termotivasi untuk meresponnya dalam sebuah tulisan.  Teruntuk Kang Afrizal, izin untuk menanggapi ya. Kita  sharing  santai saja ,  sekedar  ngobrol  dan berbagi perspektif. Semoga berkenan. Oke kita langsung saja ya. Dalam penggalan tulisannya, beliau menuliskan begini: “Bahkan Nabi Muhammad pernah ditegur langsung oleh tuhan hanya karena dia tidak menggubris pertanyaan dari orang buta. Agama...

Perempuan Bukan Objek: Dari Stereotipe Menuju Kesadaran Diri

Epistemologi Perempuan Perempuan secara epistemologi, berasal dari kata dasar “empu” yang ditambahkan prefiks “per” dan sufiks “an”. Dalam KBBI, “empu” berarti seseorang yang ahli atau mampu. Maka boleh saja perempuan dalam aksiologinya diartikan sebagai sekumpulan orang yang ahli atau mampu layaknya laki-laki. Perempuan sebagai manusia seperti halnya laki-laki, memiliki fitrah  yang membuatnya ingin selalu menuju kebenaran  (hanif) . Dalam diri  manusia terdapat nurani  (dhamir)  yang selalu mengarahkan manusia  kepada kesucian, kebaikan, dan kebenaran. Fitrah inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, karena   dengan fitrah, manusia akan terus menerus berjalan menuju kebenaran mutlak dan terakhir yakni Allah swt. Tuhan  Yang Maha Esa, sehingga manusia yang memaksimalkan potensi fitrahnya, layak menyandang gelar manusia sejati atau manusia sempurna (insan kamil). Dalam perbincangan feminisme, dalam konteks sosial, perempuan memil...