Aku adalah anak bangsa Indonesia yang merasa bangga karena terlahir di tanah Tuhan yang sangat luar biasa. Tanah air yang sangat unik nan mempesona, yang keindahan dan kekayaan alamnya dapat memikat setiap mata yang melihatnya. Dari bagian manapun tanah airku dipandangi, ia akan selalu elok dan sangat memikat hati. Maka tak heran, amat banyak yang berdatangan kesini karena berhasrat ingin menguasai.
Keindahan dan kekayaan alam tanah airku hanyalah satu di antara banyak yang dapat kubanggakan. Konon katanya, nenek moyangku adalah seorang pelaut. Mengingat bintang adalah petunjuk arah di lautan, kupikir kehebatan ilmu perbintangan mereka tak bisa diragukan. Nenek moyangku yang merupakan para pelaut tangguh itu sangat terbuka kepada siapapun hingga mereka berhasil menciptakan hubungan dengan bangsa manapun. Mereka dikenal ramah dan sopan santun. Dari keterbukaannya itu, nenek moyangku tak segan untuk berbaur hingga memberikan berbagai warisan yang beragam untuk anak cucunya. Aneka bentuk wajah bangsa Indonesia adalah salah satu keunikan tersendiri yang berhasil mereka ciptakan dalam deretan sejarah.
Berbagai kenangan indah menjadi semangat juang bagi generasi selanjutnya untuk mempertahankan ibu pertiwi yang telah diinjak dan dikuasai oleh para elit zhalim kala itu. Berabad-abad lamanya mereka bertahan dan bertukar rasa, merasakan kepahitan yang sedang menimpa. Mereka bersatu, bahu membahu berjuang dan berkorban untuk memerdekakan tanah air yang satu. Perbedaan suku, ras, dan keyakinan, tak berarti bagi mereka yang sama-sama memiliki spirit juang untuk membebaskan diri dari cengkraman serigala dalam sendi-sendi kehidupan yang nyata. Mereka berjuang, mengorbankan apapun yang mereka punya, hatta nyawa mereka sendiri, hingga akhirnya Bangsa ini berhasil keluar dari penjara dan penindasan.
Hilangnya banyak nyawa dan cucuran darah para pejuang kemudian memberikan arti mendalam bagi generasi setelahnya. Semangat persatuan menjadi semangat yang selalu dijunjung tinggi anak Bangsa. Sumpah pemuda adalah bukti persatuan berbagai suku dan perbedaan lainnya. Ikrar yang menyatakan Tanah Air yang satu, Bangsa yang satu, dan Bahasa yang satu oleh muda mudi Indonesia adalah bukti bahwa perbedaan tak akan berpengaruh apapun bagi mereka yang telah berjanji menjadi satu.
Seperti yang kita tau, manusia adalah makhluk yang dianugerahi akal oleh Tuhan. Berbagai perubahan dan perkembangan zaman adalah pengejawantahan potensi akal yang dimilikinya. Beragam inovasi adalah hasil cipta dari akalnya yang ia gunakan. Indonesia bisa maju sekaligus mundur karena potensi akal manusia itu. Kalo dulu Indonesia maju karena bangsanya menggunakan potensi akalnya dengan baik, kini Indonesia mulai mundur karena sebagian bangsanya tidak menggunakan potensi akalnya dengan baik, tentu banyak faktor yang menjadikannya penyebab.
Salah satu penyebab mundurnya bangsa Indonesia adalah kebodohan. Banyak para penumpang gelap yang ingin menghancurkan Indonesia dari luar dan dalam, baik itu dalam sistem politik, ekonomi, pendidikan, bahkan agama. Dalam agama misalnya, banyak orang-orang yang memang dikirim untuk mengadu domba bangsa Indonesia. Karena mungkin katalis-katalis lain dianggap kurang efektif untuk menghancurkan bangsa Indonesia, maka digunakanlah agama sebagai katalis utama yang mereka gunakan untuk membobrokkan bangsa ini. Mengapa agama menjadi katalis utama untuk mengahancurkan bangsa Indonesia? Karena agama adalah sesuatu yang sakral, yang jika kita pantik, maka ia akan terbakar, apalagi jika agama tidak dipahami dengan baik oleh penganutnya. Walhasil, mereka berkesimpulan bahwa agamalah yang memang memegang peranan penting untuk menghancurkan bangsa Indonesia dari dalam.
Salah satu aliran agama -sebut saja wahabisme- yang dijadikan grand design oleh “mereka” berhasil diselundupkan ke Indonesia. Karena terbukti bahwa wahabisme adalah aliran radikal dan terorisme, maka untuk menghindari stigma negatif itu, berubah nama-lah ia menjadi Salafi bahkan menjadi Ahlusunnah –padahal dalam tradisi keagamaan jelas-jelas bertentangan-. Aliran agama yang mengedepankan doktrin ketimbang akal itu berhasil merasuk ke sendi-sendi perpolitikan di Indonesia. Ia masuk ke partai-partai tertentu. Ia juga berhasil menyelundup menjadi pemimpin dalam sebuah sekolah atau universitas. Aliran agama yang ajaran utamanya adalah takfirisme -mengkafirkan yang berbeda dengan yang lainnya- karena alasan-alasan tertentu yang ‘menurut penafsiran mereka’ itu adalah berasal dari Quran dan Sunnah, kini mendapat angin untuk membentuk banyak ormas yang bertujuan untuk melancarkan misinya. Standarisasi Islam -yang diwakili beberapa ormas yang terpengaruh misalnya-, berhasil “mereka” ciptakan dengan cara memisahkan sinergitas agama Islam dengan budaya di setiap daerah di Indonesia, hatta standarisasi perjuangan Islam pun berhasil “mereka” ciptakan dengan meneriakkan “Khilafah” sebagai dasar negara yang harus diperjuangkan, juga semboyan “Jihad fi Sabilillah” sebagai satu-satunya konsepan jihad yang harus ditegakkan. Ajaran-ajaran yang bermisi menghancurkan yang berbeda dengannya –padahal perbedaan adalah sesuatu yang lumrah di Indonesia sejak dulu- menurutku, memang benar-benar mengancam keutuhan Bangsa dan Negara, karena akar-akar terorisme bermunculan di dalamnya. Aliran radikal dan ekstrim itu terbukti membahayakan diri dan juga publik, tentu hal itu terlihat dari banyaknya kasus-kasus terorisme di Negara ini.
Negara Indonesia benar-benar merupakan sasaran empuk bagi para pengincar. Hanya dengan cara menciptakan musuh dalam selimut karena kebodohannya yang tak mau menggunakan akal, maka terbentuklah grand design “mereka” ini. Indonesia adalah negara yang bangsa-bangsanya bersila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa?” Negara yang bangsa-bangsanya memilih untuk menjadikan Tuhan sebagai pusat dari segalanya, meski beda jalan yang ditempuhnya. Negara yang bangsa-bangsanya memilih untuk yang menjadikan pusat perhatiannya Ketuhanan dan Kemanusiaan. Negara yang menjunjung tinggi musyawarah untuk mencapai mufakat. Negara yang misinya keadilan dan kesejahteraan untuk rakyat.
Musuh-musuh Indonesia jelas sedang cemburu melihat negara Indonesia. Negara yang terdiri dari ribuan pulau, bahasa, dan kekayaan lainnya yang serba ada di dalamnya adalah negara yang harus dijajah dan diekploitasi sumber dayanya. Belum lagi ketika melihat masyarakatnya yang majemuk dan terdiri dari berbagai suku dan kepercayaan yang berbeda, tapi masih tetap bisa bergandengan sebagai bangsa yang satu. Mengapa mereka sebegitu terkenal dengan kesetiaannya kepada tanah air? Mengapa mereka berbeda-beda tapi tetap bisa bersatu? Mengapa mereka menjunjung tinggi persatuan? Karena bangsa Indonesia sadar, bahwa perbedaan adalah sunnatullah, bahwa perbedaan adalah suatu keniscahyaan. Jika Tuhan mau menjadikan manusia itu menjadi satu jenis saja, Tuhan bisa, tapi Tuhan berkehendak lain. Tuhan ingin manusia saling mengenal dan memahami satu sama lain. Tuhan ingin melihat siapa yang paling ikhlas pengkhidmatannya pada sesama.
Bangsa Indonesia telah bersepakat menjadi Bangsa yang berasaskan Pancasila dan memegang teguh prinsip Bhineka Tunggal Ika. Bangsa Indonesia telah bersepakat menjadi Bangsa yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan. Bangsa Indonesia telah bersepakat menjadikan kerukunan antar umat beragama menjadi point penting dalam sebuah Negara agar tercipta kedamaian di dalamnya. Wahai, betapa indahnya jika anak-anak Bangsa yang sedang lupa pada janjinya itu kembali sadar dan segera meninggalkan kebodohannya, yang serta merta tunduk pada musuh-musuh Negaranya sendiri.
Akhirnya, aku hanya bisa berharap pada Tuhan agar negaraku ini selalu dilindungi bangsanya, dilindungi warganya. Aku berharap, kiranya Tuhan selalu melindungi bangsa Indonesia dari kebodohan dan keterbelakangan yang menjajah secara materi dan imateri. Aku berharap, kiranya Tuhan mengembalikan kesadaran bagi bangsa Indonesia yang amnesia pada ikrar setianya kala itu. Aku berharap agar bangsa Indonesia bisa berbijak diri sejak dalam pikiran. Aku berharap agar Bangsa Indonesia tidak menempatkan dirinya sebagai Tuhan dan melupakan hakikatnya sebagai manusia. Aku berharap, aku berharap, aku berharap. Semoga saja bangsa Indonesia menjadi bangsa yang ingatannya akan segera pulih. Wahai muda-mudi bangsa Indonesia, marilah kita merenung sejenak, menghayati penderitaan para pahlawan dahulu yang berjuang mati-matian demi memerdekakan negara kita. Akankah kita mengembalikan kemerdekaan itu kepada para penjajah? Wahai muda-mudi harapan para pejuang, akankah kita mengkhianati tiap tetes darah suci mereka? Akankah dan relakah?
Wallahu a’lam bi ash-shawaab.
Alfatihah ma’a shalawat.
Wassalam.
Komentar
Posting Komentar