Langsung ke konten utama

Tangis Sun Haji dan Tawa di Atas Panggung

 


Iblis tidak akan pernah berhenti mencari cara untuk menyesatkan manusia.

Kira-kira itulah refleksi yang aku dapatkan setelah mendengar kabar viral baru-baru ini: Staf Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan, Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah) melakukan perbuatan amoral.

Aku katakan sebagai amoral karena memang perilakunya bertentangan dengan nurani manusia, tidak beretika! Agama apapun pasti sepakat dengan ini.

Dulu aku sempat kagum dengan gaya dakwahnya yang menyasar sampai Pekerja Seks Komersial (PSK). Ya, memang tempat-tempat maksiat lah yang menjadi sasaran dakwah. Itu namanya amar ma’ruf nahyi mungkar!

Tapi, sayang seribu sayang! Sekarang, setelah diangkat menjadi pejabat, pangkatnya bertambah satu; dari hanya seorang “ustad”, sekarang menjadi staf khusus.

Mungkin di situlah dirinya merasa dirinya punya privilege, merasa harus dihormati, didengarkan, dan tentunya paling benar.

Bagi yang belum tahu, dalam sebuah pengajian yang diselenggarakan di Magelang, Jawa Tengah, pada 20 November 2024 lalu, Gus Miftah mengucapkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan sebagai seorang tokoh agama — tepatnya sebagai seorang manusia — .

Dalam video itu diperlihatkan dialog antara Gus Miftah dengan para pendengar . Inti dari dialog itu, para pendengar mengatakan kepada Gus Miftah untuk memborong es teh yang dijual oleh seorang pria bernama Sun Haji (37), tetapi Gus Miftah mengatakan “ya sana dijual g****k! Kalo gak laku ya itu takdir! ” gelak tawa Gus Miftah dan tokoh-tokoh agama di atas panggung memenuhi pengajian saat itu. Sayangnya, para pendengar pun ikut menertawakan. Terbahak-bahak pula.

Kamera pun menyorot wajah Sun Haji, raut wajahnya terlihat seperti malu dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Barangkali hati kecilnya mengatakan “Gusti, beginilah nasib wong cilik, seenaknya dihina, bahkan oleh "ulama" sekalipun.”

Matanya yang berkaca-kaca itu menunjukkan kepada kita semua kalau hatinya terlukai. Sangat terlukai.

Hingga akhirnya video itu viral, barulah Gus Miftah menyelamatkan diri. Tidak mau sampai karirnya bermasalah, ia pun mendatangi Sun Haji dan menyatakan maaf di depan publik.

Sudah viral, baru deh minta maaf! Semudah itukah menyembuhkan hati yang terluka? Ibarat kaca yang sudah pecah, ketika diperbaiki tidak mungkin sempurna seperti semula.

Pelajaran yang dapat kita petik dari kejadian ini adalah:

  1. Hati-hati dengan ucapan! Sedikit saja hati orang terlukai, tanggung sendiri akibatnya.
  2. Hati-hati dengan jabatan! Semakin tinggi kedudukanmu di mata masyarakat, semakin gencar pula tentara iblis berusaha menyesatkan. Entah itu dengan keangkuhan, merasa lebih baik, dan tidak merasa melakukan kesalahan.
  3. Jangan sekali-kali merendahkan orang kecil! Tuhan itu barangkali lebih dekat dengan orang-orang seperti mereka. Karena rintihan mereka, tangisan mereka, derita mereka, membuat mereka lebih sering berinteraksi dengan Tuhan. Jangan sekali-kali menyakiti mustad’afin! Sekali hati mereka tersakiti, pertolongan Tuhan akan sangat cepat! Doa mereka akan dengan segera dikabulkan.
  4. Jangan pernah merasa tidak diuji oleh Tuhan! Barangkali ujian itu hadir di tengah kehidupan yang baik-baik saja. Jadi, berhati-hatilah!

Semoga kita semua semakin berempati kepada orang-orang kecil seperti mereka, yang menafkahi keluarga mereka dengan cara-cara halal dan penuh kerja keras.

Salam hormat untuk orang-orang kecil dan tertindas.

Teruntuk pak Sun Haji, yakinlah pak, jerih payahmu untuk menghidupi keluarga dengan menjual es teh lebih mulia dibanding dengan cara menjadikan agama sebagai alat untuk memuaskan hawa nafsu. Tabik!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Pluralitas Indonesia: Dari Ancaman Intoleransi menuju Moderasi Beragama

Pendahuluan      Kasus-kasus intoleransi dan radikalisme semakin hari semakin menunjukkan eksistensinya di Indonesia. Survei yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta terkait Sikap Keberagamaan Siswa dan Mahasiswa Muslim di Indonesia tahun 2017 menunjukkan adanya penguatan paham intoleransi dan radikalisme di kalangan siswa dan mahasiswa.      Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar mereka memiliki opini yang termasuk dalam kategori intoleran/sangat intoleran dan radikal/sangat radikal. Namun jika dilihat dari sisi aksi/tindakan, mereka sebagian besar memiliki kecenderungan toleran dan moderat (gambar 1).      Walaupun secara tindakan mereka cenderung moderat dan toleran (gambar 2), tapi kecenderungan sikap mereka yang sebagian besar intoleran dan radikal sangat mengkhawatirkan, karena sikap yang demikian berpotensi menjadi tindakan radikal.           Dari analisis d...

Saat Tafsir Menyudutkan Nabi: Refleksi atas Surah ‘Abasa

Seperti biasa, di waktu senggang, aku menggulir beranda mediumku. Aku menemukan tulisan berjudul “Surat Terbuka Untuk Pak Miftah” oleh Kang  Afrizal Naufal Ghani . Tentu saja tulisan ini memacuku untuk membukanya, karena topiknya masih terhubung dengan kegelisahan hatiku belakangan ini, soal sikap Pak Miftah terhadap pak Sun Haji, penjual es keliling asal Magelang, Jawa Tengah. Dalam tulisan itu, secara garis besar, pandangan Mas Afrizal terhadap sikap Pak Miftah itu sama denganku. Tetapi di kalimat tertentu, ada kalimat yang sedikit menggelitik, dan akhirnya aku termotivasi untuk meresponnya dalam sebuah tulisan.  Teruntuk Kang Afrizal, izin untuk menanggapi ya. Kita  sharing  santai saja ,  sekedar  ngobrol  dan berbagi perspektif. Semoga berkenan. Oke kita langsung saja ya. Dalam penggalan tulisannya, beliau menuliskan begini: “Bahkan Nabi Muhammad pernah ditegur langsung oleh tuhan hanya karena dia tidak menggubris pertanyaan dari orang buta. Agama...

Perempuan Bukan Objek: Dari Stereotipe Menuju Kesadaran Diri

Epistemologi Perempuan Perempuan secara epistemologi, berasal dari kata dasar “empu” yang ditambahkan prefiks “per” dan sufiks “an”. Dalam KBBI, “empu” berarti seseorang yang ahli atau mampu. Maka boleh saja perempuan dalam aksiologinya diartikan sebagai sekumpulan orang yang ahli atau mampu layaknya laki-laki. Perempuan sebagai manusia seperti halnya laki-laki, memiliki fitrah  yang membuatnya ingin selalu menuju kebenaran  (hanif) . Dalam diri  manusia terdapat nurani  (dhamir)  yang selalu mengarahkan manusia  kepada kesucian, kebaikan, dan kebenaran. Fitrah inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, karena   dengan fitrah, manusia akan terus menerus berjalan menuju kebenaran mutlak dan terakhir yakni Allah swt. Tuhan  Yang Maha Esa, sehingga manusia yang memaksimalkan potensi fitrahnya, layak menyandang gelar manusia sejati atau manusia sempurna (insan kamil). Dalam perbincangan feminisme, dalam konteks sosial, perempuan memil...