Langsung ke konten utama

Empati


Di zaman sekarang, empati itu sudah seperti bunga yang tertiup angin. Hilang entah kemana. Empati yang merupakan fitrah manusia sejak lahir, seperti sudah tergerus oleh berbagai kepentingan yang berakar ego. Seorang bayi akan menangis ketika mendengar bayi lain sedang menangis. Seharusnya seperti itu, empati itu. Mencoba berposisi di posisi orang, hingga kita merasakan apa yang dirasakan orang, 

Empati yang berlandas kasih sayang itu sudah mulai hilang dari setiap kita. Padahal Tuhan saja berempati kepada kita. Tuhan menurunkan kitab suci-Nya kepada kita lewat utusan-Nya karena Tuhan sayang pada kita. Seandainya saja Tuhan tidak turunkan wahyu-Nya lewat Nabi dan Rasul-Nya, apa yang akan kita lakukan? Dan apa yang kita punya selain kebingungan?. Dalam memahami isi kandungan kitab suci-Nya saja bahkan tidak semudah yang kita bayangkan. Tetapi kemudian Tuhan menghadirkan para kekasih-Nya untuk membantu membedah makna-makna dibalik ayat suci tersebut. Tuhan hadirkan para wali-Nya untuk kemudian kita ikuti. Luar biasa sekali kasih sayang Tuhan itu, seandainya tidak ada para kekasih-Nya, suara hati manusia tidak akan tersampaikan dan tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Kita selaku makhluk yang mengaku menyembah Tuhan, sudah selayaknya dong kita berlaku seperti sifat Tuhan yang Maha Kasih itu. Mengaku mencintai Tuhan berarti “bersatu” dengan Tuhan itu sendiri. Bukankah seorang pecinta akan melakukan sesuatu yang dilakukan oleh objek yang dicinta? Kita mencintai Tuhan, berarti kita harus menyebarkan sifat-sifat Tuhan. Kasih sayang, misalnya.

Kalau dipikir-pikir dan kita lihat dalam realitas, egoistis memang sudah berhasil mengalahkan altruistis. Setiap kita sekarang merasa lebih benar daripada orang lain, sehingga ketika kita berhadapan dengan yang berbeda, maka sebagian dari kita akan menyerang mereka dengan kata-kata yang menyakitkan, bahkan dengan kekerasan sekalipun. Tidakkah kita merasakan? Bagaimana seandainya ketika kita yang berada di posisi itu? Bagaimana rasanya ketika kita dikafirkan karena berbeda keyakinan tertentu? Di manakah keindahan agama sekarang ini jika yang diteriakkan hanya kalimat-kalimat provokatif? Dimanakah keagungan agama sekarang ini jika yang diteriakkan hanya kalimat-kalimat kebencian?. 

Sebagian dari kita meneriakkan “Allahu Akbar” untuk membakar rumah orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita. Sebagian kita meneriakkan “Allahu Akbar” untuk berbuat onar dan membuktikan bahwa kitalah yang terhebat diantara semuanya. Bukankah “Allahu Akbar” adalah deklarasi ke-Akbar-an Tuhan kita? Bukankah “Allahu Akbar” adalah deklarasi pengkerdilan kita sebagai makhluk-Nya yang lemah?

Kepentingan diri dan kelompok benar-benar telah merasuk ke dalam persendian kehidupan bermasyarakat. Saling menghormati satu sama lain sudah seperti barang yang asing dan tak penting. Tenggang rasa dan toleransi sudah mulai punah, sepunah persatuan yang selalu diserukan. Kerukunan beragama pun sudah menjadi sesuatu yang sangat dilupakan. Dalam benak kita, agama yang benar itu satu, dan kalian semua salah. Saya benar dan kalian salah. Heterogenitas yang indah bagaikan bunga-bunga yang bermekaran, kini  ingin kita basmi, pikir kita, cukup sajalah dengan homogenitas. Waw! Coba deh perhatikan, bukankah taman itu akan indah jika bunga-bunga berkumpul dengan beragam corak dan warna?

Sudah saatnya kita ini harus berhenti dari semua kekonyolan yang ada pada diri. Sudah saatnya kita batinkan agama kita dengan laku lampah yang sesuai perintah dan larangan-Nya. Asas negara, Pancasila yang memiliki nilai-nilai luhur dan bergandengan dengan agama itu, sudah saatnya kita amalkan dalam bentuk sekecil apapun. Bhineka Tunggal Ika, prinsip Negara yang menjadi patokan berhubungan, sudah saatnya kita junjung tinggi dalam keseharian. Marilah jadi teladan hebat yang menginspirasi lingkungan sekitar agar peradaban Ilahi dan insani itu bisa benar-benar terwujud di Negara kita. 

Wassalam.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Pluralitas Indonesia: Dari Ancaman Intoleransi menuju Moderasi Beragama

Pendahuluan      Kasus-kasus intoleransi dan radikalisme semakin hari semakin menunjukkan eksistensinya di Indonesia. Survei yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta terkait Sikap Keberagamaan Siswa dan Mahasiswa Muslim di Indonesia tahun 2017 menunjukkan adanya penguatan paham intoleransi dan radikalisme di kalangan siswa dan mahasiswa.      Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar mereka memiliki opini yang termasuk dalam kategori intoleran/sangat intoleran dan radikal/sangat radikal. Namun jika dilihat dari sisi aksi/tindakan, mereka sebagian besar memiliki kecenderungan toleran dan moderat (gambar 1).      Walaupun secara tindakan mereka cenderung moderat dan toleran (gambar 2), tapi kecenderungan sikap mereka yang sebagian besar intoleran dan radikal sangat mengkhawatirkan, karena sikap yang demikian berpotensi menjadi tindakan radikal.           Dari analisis d...

Saat Tafsir Menyudutkan Nabi: Refleksi atas Surah ‘Abasa

Seperti biasa, di waktu senggang, aku menggulir beranda mediumku. Aku menemukan tulisan berjudul “Surat Terbuka Untuk Pak Miftah” oleh Kang  Afrizal Naufal Ghani . Tentu saja tulisan ini memacuku untuk membukanya, karena topiknya masih terhubung dengan kegelisahan hatiku belakangan ini, soal sikap Pak Miftah terhadap pak Sun Haji, penjual es keliling asal Magelang, Jawa Tengah. Dalam tulisan itu, secara garis besar, pandangan Mas Afrizal terhadap sikap Pak Miftah itu sama denganku. Tetapi di kalimat tertentu, ada kalimat yang sedikit menggelitik, dan akhirnya aku termotivasi untuk meresponnya dalam sebuah tulisan.  Teruntuk Kang Afrizal, izin untuk menanggapi ya. Kita  sharing  santai saja ,  sekedar  ngobrol  dan berbagi perspektif. Semoga berkenan. Oke kita langsung saja ya. Dalam penggalan tulisannya, beliau menuliskan begini: “Bahkan Nabi Muhammad pernah ditegur langsung oleh tuhan hanya karena dia tidak menggubris pertanyaan dari orang buta. Agama...

Perempuan Bukan Objek: Dari Stereotipe Menuju Kesadaran Diri

Epistemologi Perempuan Perempuan secara epistemologi, berasal dari kata dasar “empu” yang ditambahkan prefiks “per” dan sufiks “an”. Dalam KBBI, “empu” berarti seseorang yang ahli atau mampu. Maka boleh saja perempuan dalam aksiologinya diartikan sebagai sekumpulan orang yang ahli atau mampu layaknya laki-laki. Perempuan sebagai manusia seperti halnya laki-laki, memiliki fitrah  yang membuatnya ingin selalu menuju kebenaran  (hanif) . Dalam diri  manusia terdapat nurani  (dhamir)  yang selalu mengarahkan manusia  kepada kesucian, kebaikan, dan kebenaran. Fitrah inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, karena   dengan fitrah, manusia akan terus menerus berjalan menuju kebenaran mutlak dan terakhir yakni Allah swt. Tuhan  Yang Maha Esa, sehingga manusia yang memaksimalkan potensi fitrahnya, layak menyandang gelar manusia sejati atau manusia sempurna (insan kamil). Dalam perbincangan feminisme, dalam konteks sosial, perempuan memil...